Kisah ini ingin aku tulis sejak selesai webinar Keys to Success oleh mbak Doris agar teman-teman yang belum sempat mendengar atau mendengarnya putus-putus karena koneksi menjadi lebih jelas.
Kisah Patung dan Marmer terdapat pada buku karya Parlindungan Marpaung yang berjudul 1/2 Pecah 1/2 Utuh/ Lebih tepatnya di bab 10 "Harga yang harus dibayar".
Berikut kisahnya.
Dalam sebuah gedung yang megah milik pemerintah, dan biasa dimanfaatkan untuk acara-acara kenegaraan, berkatalah dua benda yang selama ini telah menghuni gedung tersebut. Mereka adalah Patung dan Marmer lantai.
Marmer pertama kali membuka pembicaraan kepada Patung, "Hai Patung, betapa merananya hidupku ini, berada dalam ruangan yang megah namun selalu diinjak oleh orang lain. Apakah hidup ini hanya untuk diinjak-injak?" Patung menjawab dengan sedih juga, "Sebenarnya aku pun demikian, hanya dilihat dan dikagumi namun tidak pernah dibawa keluar dari penjara estalase kacaku ini. Mereka semua hanya terkagum-kagum tanpa pernah berusaha mencari tahu siapa diriku yang sebenarnya." Kembali Marmer menimpali, "Betul, namun hidupmu sangatlah nyaman tanpa ada rasa sakit karena diinjak bahkan tidak ada pelecehan sama sekali. Coba kamu bayangkan saya yang demikian. Wah, betapa menyakitkannya!"
Mendengar keluhan Marmer yang begitu menyayat hati, Patung pun mulai mencoba menerangkan apa yang sesungguhnya terjadi. "Rekanku yang baik, Kita berasal dari daerah yang sama, gua yang gelap dan hampir tidak pernah dijamah manusia. Kehidupan kita sebenarnya sudah mati sejak kita ada. Mati dalam kebekuan dan zona kenyamanan di dalam gua, serta tidak adanya kontak dengan dunia luar. Sampai suatu kali beberapa orang penduduk desa dan kontraktor pertambangan menemukan wilayah kita," ujar si Patung panjang lebar.
Patung pun bertanya, "Masih ingatkah engkau ketika pertama kali kita diangkut?" Belum sempat Marmer menjawab, Patung pun mengenang, "Kita pun berteriak-teriak karena dipacul, dipukul, bahkan digilas traktor. Kita "dipaksa" untuk keluar dari zona kenyamanan kita. Penderitaan ternyata tidak hanya sampai di situ saja. Kita mulai dimasukkan ke dalam ruang pengrajin, mulailah dibentuk, digerinda, dan diamplas. Kepedihan demi kepedihan kita alami dan tidak mampu untuk berteriak melepaskan diri dari penderitaan tersebut. Namun lihatlah hasilnya saat ini, kita sudah tidak lagi dalam dunia yang terus-menerus mengungkung. Hari ini, sekalipun kehidupan kita seperti ini, namun bukankah kita harus tetap bersyukur karena perubahan yang lebih baik. Sahabatku, tidak ada untuk mencapai kehidupan yang lebih baik, tanpa kerja keras, air mata, dan keringat!" Demikian nasihat bijak Patung. Marmer pun tampak merenung lalu bersyukur.
Dari cerita diatas, saya teringat filsafat jawa yang disampaikan juga di webinar tersebut, "Wang Sinawang" hidup itu tidak seperti yang terlihat, yang kamu lihat enak, belum tentu yang menjalaninya merasakan enak.
Semuanya kembali pada pribadi masing-masing. Mau jadi Patung yang tetap bersyukur akan hidupnya saat ini atau Marmer yang masih meratapi nasibnya diinjak-injak?
Bersyukurlah sekarang juga, sekecil apapun nikmat yang telah diberikanNya kepadamu.
Independent Senior Manager
Mella Lestari, S.Si (ella)
No Konsultan : 2698614
HP. 083 835 174 555
PIN. 306CC9BB
FB: Mella Lestari
twitter: @MellaLestari84
e-mail: ell4star@ymail.com
Kisah Patung dan Marmer terdapat pada buku karya Parlindungan Marpaung yang berjudul 1/2 Pecah 1/2 Utuh/ Lebih tepatnya di bab 10 "Harga yang harus dibayar".
Berikut kisahnya.
Dalam sebuah gedung yang megah milik pemerintah, dan biasa dimanfaatkan untuk acara-acara kenegaraan, berkatalah dua benda yang selama ini telah menghuni gedung tersebut. Mereka adalah Patung dan Marmer lantai.
Marmer pertama kali membuka pembicaraan kepada Patung, "Hai Patung, betapa merananya hidupku ini, berada dalam ruangan yang megah namun selalu diinjak oleh orang lain. Apakah hidup ini hanya untuk diinjak-injak?" Patung menjawab dengan sedih juga, "Sebenarnya aku pun demikian, hanya dilihat dan dikagumi namun tidak pernah dibawa keluar dari penjara estalase kacaku ini. Mereka semua hanya terkagum-kagum tanpa pernah berusaha mencari tahu siapa diriku yang sebenarnya." Kembali Marmer menimpali, "Betul, namun hidupmu sangatlah nyaman tanpa ada rasa sakit karena diinjak bahkan tidak ada pelecehan sama sekali. Coba kamu bayangkan saya yang demikian. Wah, betapa menyakitkannya!"
Mendengar keluhan Marmer yang begitu menyayat hati, Patung pun mulai mencoba menerangkan apa yang sesungguhnya terjadi. "Rekanku yang baik, Kita berasal dari daerah yang sama, gua yang gelap dan hampir tidak pernah dijamah manusia. Kehidupan kita sebenarnya sudah mati sejak kita ada. Mati dalam kebekuan dan zona kenyamanan di dalam gua, serta tidak adanya kontak dengan dunia luar. Sampai suatu kali beberapa orang penduduk desa dan kontraktor pertambangan menemukan wilayah kita," ujar si Patung panjang lebar.
Patung pun bertanya, "Masih ingatkah engkau ketika pertama kali kita diangkut?" Belum sempat Marmer menjawab, Patung pun mengenang, "Kita pun berteriak-teriak karena dipacul, dipukul, bahkan digilas traktor. Kita "dipaksa" untuk keluar dari zona kenyamanan kita. Penderitaan ternyata tidak hanya sampai di situ saja. Kita mulai dimasukkan ke dalam ruang pengrajin, mulailah dibentuk, digerinda, dan diamplas. Kepedihan demi kepedihan kita alami dan tidak mampu untuk berteriak melepaskan diri dari penderitaan tersebut. Namun lihatlah hasilnya saat ini, kita sudah tidak lagi dalam dunia yang terus-menerus mengungkung. Hari ini, sekalipun kehidupan kita seperti ini, namun bukankah kita harus tetap bersyukur karena perubahan yang lebih baik. Sahabatku, tidak ada untuk mencapai kehidupan yang lebih baik, tanpa kerja keras, air mata, dan keringat!" Demikian nasihat bijak Patung. Marmer pun tampak merenung lalu bersyukur.
Dari cerita diatas, saya teringat filsafat jawa yang disampaikan juga di webinar tersebut, "Wang Sinawang" hidup itu tidak seperti yang terlihat, yang kamu lihat enak, belum tentu yang menjalaninya merasakan enak.
Semuanya kembali pada pribadi masing-masing. Mau jadi Patung yang tetap bersyukur akan hidupnya saat ini atau Marmer yang masih meratapi nasibnya diinjak-injak?
Bersyukurlah sekarang juga, sekecil apapun nikmat yang telah diberikanNya kepadamu.
Independent Senior Manager
Mella Lestari, S.Si (ella)
No Konsultan : 2698614
HP. 083 835 174 555
PIN. 306CC9BB
FB: Mella Lestari
twitter: @MellaLestari84
e-mail: ell4star@ymail.com











